Survei APJII: YouTube Jadi Platform Video Paling Sering Ditonton
Survei APJII 2026 mencatat 235 juta pengguna internet di Indonesia dan YouTube ditonton 49,3 persen responden. Apa artinya bagi usaha dan instansi?

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis hasil survei penetrasi internet 2026. Menurut laporan detikInet pada 22 Mei 2026, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 235.261.078 jiwa dari total 287.886.782 penduduk. Tingkat penetrasinya 81,72 persen, naik dari 80,7 persen pada 2025. Dalam lima tahun terakhir, angkanya terus meningkat dari 77 persen pada 2022.
Survei ini melibatkan 8.700 responden berusia 13 tahun ke atas di 38 provinsi. Data dikumpulkan lewat wawancara tatap muka pada 1 Februari hingga 15 Maret 2026, dengan margin of error atau batas kesalahan sekitar 1,1 persen.

YouTube memimpin, platform lokal menyusul
Dari survei yang sama, RRI melaporkan pada 8 Juni 2026 bahwa YouTube menjadi platform video yang paling sering ditonton, dengan porsi 49,3 persen. Berikutnya ada Vidio (24,8 persen) dan Netflix (13,4 persen). Prime Video dan Disney+ Hotstar masing-masing 0,6 persen, sedangkan platform lain 8,5 persen. Hanya 2,8 persen responden yang tidak menonton platform mana pun.
Angka ini menunjukkan hampir separuh responden paling sering menonton video di YouTube. Bagi pemilik usaha dan instansi, platform ini bukan sekadar tempat hiburan. YouTube juga dapat menjadi etalase informasi yang mudah ditemukan lewat pencarian.
Hiburan dan informasi sama-sama dicari
detikInet juga merinci alasan orang menggunakan internet. Komunikasi dan jejaring sosial dipilih 19,9 persen responden, hiburan digital 19,7 persen, serta mencari informasi dan berita 19,6 persen. Belanja daring dan layanan menyusul dengan 18,7 persen. Layanan publik dan pemerintahan dipilih 4,5 persen.
Tiga alasan teratas nyaris sama besar. Video yang informatif sekaligus enak ditonton berada di titik temu kebutuhan itu. Angka 4,5 persen untuk layanan publik juga dapat menjadi catatan bagi instansi. Informasi layanan mungkin perlu dikemas lebih menarik agar dicari dan dipahami warga.
Akses yang belum merata
Penetrasi tertinggi tercatat di Jawa, yaitu 85,95 persen. Wilayah Maluku dan Papua berada di angka terendah, 69,74 persen. Alasan terbesar warga belum terhubung adalah tidak memiliki perangkat (34 persen) dan belum tahu cara menggunakan perangkat digital (31,5 persen).
Jawa juga menyumbang 58,24 persen dari seluruh pengguna internet nasional, disusul Sumatra dengan 20,74 persen. Artinya, audiens video daring tersebar di seluruh Indonesia, tetapi dengan kondisi akses yang berbeda-beda. Video yang ringan dan mudah dipahami akan lebih inklusif.
Peluang bagi usaha dan instansi
Data ini memberi gambaran sederhana. Bila sebagian besar warga menonton video di YouTube, maka video profil, tutorial produk, atau penjelasan layanan sebaiknya juga tersedia di sana. Kehadiran Vidio di urutan kedua menunjukkan bahwa platform lokal juga punya tempat di hati penonton. Pilihan kanal sebaiknya disesuaikan dengan kebiasaan audiens yang ingin Anda jangkau.
Apa artinya bagi Anda
- Rawat kanal YouTube Anda. Kanal yang tertata, dengan judul dan deskripsi jelas, memudahkan calon pelanggan atau warga menemukan video Anda.
- Padukan informasi dan cerita. Tutorial, profil usaha, atau penjelasan layanan dapat dikemas dengan alur cerita agar tidak terasa kaku.
- Ubah prosedur menjadi video. Instansi dapat menjelaskan alur layanan publik lewat video singkat yang mudah dipahami.
- Pikirkan kondisi jaringan penonton. Karena akses belum merata, durasi yang ringkas dan ukuran berkas yang wajar membantu video tetap nyaman ditonton.
Bila Anda sedang menyiapkan video profil atau video penjelasan layanan, lihat layanan video kami atau ceritakan kebutuhan Anda.
Sumber
- Pengguna Internet Indonesia Tembus 235 Juta, Penetrasi 81,72% — detikInet, 22 Mei 2026
- YouTube Pimpin Daftar Platform Video Favorit Pengguna Internet Indonesia — RRI, 8 Juni 2026
Artikel ini ditulis ulang oleh Tim Apikin dari sumber di atas untuk keperluan informasi.