Apikin.com

Blog · Website & Aplikasi

WCAG 2.2 Resmi Menjadi Standar Internasional ISO

Pedoman aksesibilitas web WCAG 2.2 kini terbit sebagai ISO/IEC 40500:2025. Simak isi pentingnya dan apa artinya bagi tampilan website organisasi Anda.

Ilustrasi tipografis bertuliskan Standar Web dengan judul WCAG 2.2 Kini Berstatus Standar ISO dalam warna merek Apikin
Ilustrasi: Tim Apikin

World Wide Web Consortium (W3C), lembaga yang menyusun standar web, mengumumkan pada 21 Oktober 2025 bahwa Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 2.2 telah disetujui sebagai standar internasional. Pedoman itu kini terbit dengan nama ISO/IEC 40500:2025. Persetujuan diberikan oleh komite gabungan ISO dan IEC yang dikenal sebagai JTC 1.

Menurut W3C, standar ini dapat diperoleh tanpa biaya melalui situs ISO. Materi pendukung dan terjemahannya juga tersedia gratis di situs W3C.

Ringkasan poin penting: WCAG 2.2 terbit sebagai ISO/IEC 40500:2025; Dokumen standar dapat diunduh gratis dari situs ISO; Ada sembilan kriteria baru, termasuk ukuran target sentuh
Ringkasan poin penting dari artikel ini, disusun Tim Apikin.

Mengapa status ISO penting

WCAG adalah pedoman agar konten web dapat digunakan oleh orang dengan beragam disabilitas. W3C menyebut cakupannya meliputi disabilitas pendengaran, kognitif, neurologis, fisik, wicara, dan penglihatan. Pedoman ini juga membantu pengguna lanjut usia, dan pada akhirnya memudahkan semua orang.

Status sebagai standar ISO memberi pijakan formal. W3C menyatakan bahwa persetujuan ini memungkinkan lebih banyak negara mengadopsi WCAG 2.2 secara resmi. Selama ini WCAG sudah menjadi rujukan berbagai aturan, antara lain standar Eropa EN 301 549 dan Undang-Undang Aksesibilitas Eropa.

Versi yang disetujui ISO adalah WCAG 2.2 terbitan Oktober 2023. W3C menyebut sedang bekerja agar ISO/IEC 40500 dan EN 301 549 mengikuti versi WCAG 2.2 yang terbaru.

Apa yang baru di WCAG 2.2

Menurut halaman ringkasan W3C, WCAG 2.2 menambahkan sembilan kriteria keberhasilan. Sebagian besar berkaitan langsung dengan desain antarmuka. Beberapa di antaranya:

  • Ukuran target. Tombol dan tautan yang dapat diklik minimal berukuran 24 kali 24 piksel CSS, atau diberi jarak yang cukup.
  • Fokus yang tidak tertutup. Elemen yang sedang dipilih lewat papan ketik tidak boleh tertutup sepenuhnya oleh konten lain, misalnya pita yang menempel di layar.
  • Gerakan menyeret. Fungsi yang memakai gerakan seret harus punya alternatif berupa satu klik atau satu ketukan.
  • Bantuan yang konsisten. Bila tautan bantuan muncul di banyak halaman, letaknya harus tetap pada urutan yang sama.
  • Isian tidak diulang. Data yang sudah diisi dalam satu proses sebaiknya tidak diminta lagi.

W3C juga mencatat bahwa satu kriteria lama, yaitu 4.1.1 tentang parsing atau penguraian kode, dinyatakan usang dalam versi ini.

Desain yang rapi sekaligus inklusif

Daftar di atas memperlihatkan bahwa aksesibilitas bukan semata urusan teknis di balik layar. Banyak kriterianya menyangkut keputusan visual yang sehari-hari diambil desainer. Ukuran tombol, posisi menu bantuan, dan pita informasi yang menempel di layar semuanya bisa dirancang sejak awal. Perbaikan semacam ini biasanya juga membuat website terasa lebih nyaman di ponsel.

Memulai dari pemeriksaan sederhana

Anda tidak perlu menunggu proyek besar untuk mulai. Cobalah menjelajahi website hanya dengan papan ketik, tanpa tetikus. Perhatikan apakah elemen yang sedang dipilih selalu terlihat. Buka pula website di ponsel, lalu coba tekan setiap tombol dengan ibu jari. Bila sering salah tekan, ukuran atau jarak tombol mungkin perlu ditinjau. Terakhir, isi formulir yang ada dari awal sampai akhir. Catat setiap langkah yang terasa membingungkan atau berulang. Catatan sederhana ini sudah cukup untuk menjadi bahan diskusi dengan tim desain.

Apa artinya bagi Anda

  • Jadikan WCAG 2.2 sebagai acuan desain. Saat merancang ulang website, minta tim Anda memeriksa kriteria tingkat A dan AA lebih dulu.
  • Periksa ukuran tombol di ponsel. Tombol yang terlalu kecil atau berdempetan menyulitkan banyak pengunjung, bukan hanya penyandang disabilitas.
  • Tinjau elemen yang menempel di layar. Pita promosi, tombol obrolan, atau pemberitahuan kuki jangan sampai menutupi isi utama.
  • Sederhanakan formulir. Hindari meminta data yang sama dua kali dalam satu alur pendaftaran atau pemesanan.

Bila Anda sedang merencanakan tampilan baru yang lebih ramah bagi semua pengunjung, pelajari layanan website kami atau hubungi kami untuk berdiskusi.

Sumber

Artikel ini ditulis ulang oleh Tim Apikin dari sumber di atas untuk keperluan informasi.

Baca juga

Artikel lain

Punya kebutuhan serupa?

Ceritakan tujuan, audiens, dan tenggat Anda. Kami siapkan lingkup dan penawarannya.